BerakalĀ 

Anugerah terbesar dari Sang Maha Kuasa itu akal. Bukan harta, bukan emas, bukan kedudukan, bukan penghormatan, bukan surat tanah, bukan pekerjaan, bukan mutiara, bukan perusahaan. Apalah arti semuanya, jika pemiliknya tak berakal. Kehancuran semakin cepat melaju. Tanpa akal. Musnah lalu hilang tanpa sisa. Harusnya akal berwadah dalam hati. Yang sederhana, ikhlas, bersih, tawaddhu', dan terbebas … Continue reading BerakalĀ 

Jalan Pulang

Tanyaku sore ini, dimana ujung dari perjalanan kehidupan ini? Akalku menjawab, ujungnya adalah kematian sebagai pintu masuk akhirat. Kemudian, perenungan baru dimulai. Sadarkanku, bahwa aku sedang dalam perjalanan. Melewati beberapa batasan pembatas, belok kiri-kanan, harus merangkak sesekali, tak jarang harus terjatuh dalam lubang-lubang jalan tak beraspal. Beberapa bekal jadi beban dalam perjalanan, kadang kehabisan bekal. … Continue reading Jalan Pulang

Menggurui

Sebait goresan tentang taubat. Media permohonan bagi hamba dari Sang Pencipta. Mulakan semua penyesalan. Menjadi awal yang lebih menyinari. Tanpa hardikan, tanpa sinisnya mata, tanpa gusarnya hati. Tiap makhluk diberi kesempatan yang adil juga setara. Bukan tanpa tantangan. Taubat beriring dengan deret ujian kesungguh-sungguhan. Uji kelayakan. Akhirnya akan terlihat, siapa yang sungguhnya terkuat, siapa yang … Continue reading Menggurui

Maksiat Hati

Akan sesuatu yang sangat dijaga, disayang, dirawat. Lupa akan hakikatnya sebagai titipan, butakan pemilik sesaat sekejap pendeknya massa di dunia. Tapi terasa bermassa-massa saat gelap selimuti kedua bola mata. Hilangnya hadirkan sakit. Buruknya hadirkan perih. Begitu dilema relung sanubari berteriak sepi. Tanpa makna, tanpa hakikat. Dilupakannya begitu saja. Dulu, aku pikir itu semua membawa nilai. … Continue reading Maksiat Hati