Bersahabat dengan Kehilangan

Rasa “kehilangan” dalam hidup menjadi satu momok yang begitu menyakitkan. Rasa itu timbul dari rasa “memiliki” dari setiap diri. Perasaan “memiliki” itu menimbulkan rasa “kehilangan”. Untuk kemudian, setiap pribadi berbeda-beda dalam merespon tiap kehilangan yang dialami. Baik itu kehilangan kepercayaan, kehilangan jabatan, kehilangan kedudukan, kehilangan benda kesayangan, atau kehilangan orang-orang yang disayangi.

Tentu sangat manusiawi, jika kehilangan menghadirkan sedih. Manusia dititipkan sifat keluh kesah pada saat penciptaan. Tanpa sadar, dalam berbagai aspek seringkali kita berkeluh kesah dan biasanya setelah itu kita akan belajar ikhlas, sabar, dan syukur saat merespon kehilangan. Nilai-nilai ikhlas, sabar, dan syukur sering datang belakang sebagai solusi. Kenapa ketiganya tidak datang secara otomatis saat kita sedang kehilangan?

The Law of Attraction. Teori ini menjawab pertanyaan diatas. Bahwa sikap, tingkah pola, dan perkataan kita digerakkan secara otomatis oleh akal sesuai dengan kebiasaan sehari-hari. Jika kita terbiasa panik saat menghadapi masalah, secara otomatis otak akan merekam sifat ini dan secara otomatis akan muncul saat kita menghadapi masalah. Atau, jika kita terbiasa terlalu sedih saat mendapatkan sesuatu tidak sesuai dengan harapan. Maka sifat sedih ini pun akan terekam dalam memori kemudian akan muncul disaat kita merasa kecewa. Begitulah polanya terbangun, terus menerus otak merekam cara kita merespon sesuatu hingga akhirnya sifat-sifat itu menjadi habit dalam hidup. Mampukah kita mengubahnya?

Allah Subhana wa Ta’ala sebagai Pencipta Alam Semesta memastikan, bahwa perubahan perilaku, sikap, dan pikiran seseorang akan berubah menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk dari sebelumnya tergantung dari pilihan diri masing-masing. Setiap manusia diberi hak otonomi individu dalam menentukan ikhtiar dalam hidup. Itu artinya, setiap individu mampu mengubah cara kita merespon saat menghadapi masalah, kehilangan, juga kekecewaan. Bagaimana agama menjawabnya?

Terdapat satu nilai dalam Islam yaitu nilai Penghambaan Kepada Allah. Penghambaan berarti menyerahkan diri secara total kepada Allah. Meyakinkan hati bahwa sejatinya kita tidak memiliki apapun di dunia ini. Semua yang berada dalam wilayah kekuasaan kita hanyalah Titipan Allah yang harus kita kelola sebaik mungkin. Pengelolaan aset-aset yang Allah berikan itu-pun dinilai ibadah. Kemudian kelak di akhirat kita diminta mempertanggungjawabkan fungsi dari seluruh titipan yang Allah amanahkan kepada kita.

Harta yang kita usahakan, jabatan yang kita perjuangkan, kedudukan yang kita impikan, suami/istri yang kita upayakan, dan anak-anak yang kita besarkan. Seluruhnya Titipan Allah. Nilai penghambaan kepada Allah ini seharusnya juga mengingatkan kita, bahwa kehilangan harta, jabatan, kedudukan, suami/istri, dan anak-anak sejatinya bukanlah kehilangan. Tapi sebuah proses pergantian amanah, layaknya pergantian posisi ketua dalam sebuah organisasi. Rotasi kekuasaan itu sudah diatur Allah sebaik mungkin. Allah selalu memberikan yang kita butuhkan, bukan sesuatu yang kita inginkan.

Sikap positive thinking kepada Allah diatas membuat posisi penghambaan kita kepada Allah menjadi benar. Bersandar total kepada Allah berarti memiliki keyakinan kuat bahwa seluruh takdir Allah kepada kita akibat dari sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang Allah kepada kita. Jika keyakinan ini sudah jadi keyakinan permanen kita, tentu respon/sikap kita saat menghadapi rasa kehilangan akan berbeda. Kecewa? Mungkin tidak, justru akan lebih bahagia.

Bahagia karena Allah mengambil sesuatu yang dititipkan kepada kita. Resiko yang kita hadapi setelahnya juga akan meringankan beban pretanggungjawaban kita kelak di akhirat. Bisakah kita bahagia saat kehilangan?

Sangat bisa. Saat rasa “kepemilikan” yang ada dalam pikiran kita hilangkan secara perlahan. Kemudian ganti kalimat kepemilikan itu menjadi titipan Allah. Lihat gedget yang kita miliki lalu katakan pada hati “ini semua titipan Allah”. Lihat juga jabatan dan harta kekayaan kita kemudian katakan dalam hati “ini juga titipan Allah”. Bayangkan wajah orang-orang yang kita sayangi kemudian katakan pada hati “mereka semua adalah titipan Allah”. Tugas kita selanjutnya, mengoptimalkan seluruh titipan Allah dalam rangka memperbaiki diri, membenarkan ibadah, dan memaksimalkan fungsi kepemimpinan khalifatullah di dunia. Sebab kita juga diberi amanah yang melekat yaitu memastikan kondisi dunia yang lebih baik.

Sebagai kesimpulan, cara terbaik bersahabat dengan kehilangan adalah dengan mengubah pola pikir kita terhadap apa saja yang ada pada kita sekarang. Paradigma kepemilikan kita ubah menjadi Titipan Allah.

Semoga Allah memberi kita kekuatan dalam mengorganisir seluruh Titipan-Nya kepada kita. Amin Ya Rabbal Alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s