Wangi Tubuh

Narasi yang menyakitkan. Sulit tersebut imaji aroma rasa yang membuncah setelah efek baru yang muncul dari kalimat ini. Itu menyanderaku seumur hidup. Mengurangi rasa tenang dalam menghamba. Membayangi besarnya kesakitan-kesakitan yang ditimbul dalam hati pribadi yang ikhlas sudah menerima sebelumnya. Jiwa siapa yang mampu bertahan tegar dalam terpaan dan tamparan? Aku membisu.

Kenapa narasi itu menghampiriku? Dia begitu saja terlontar saat diri mengiba pada syahwat belaka. Tak mampu jejak ini berputar arah, kembali ke beberapa hari dibelakang pundak yang mulai menunduk. Dia jadi fakta. Tak mungkin terlupa. Hadirkan karma buat Arjuna. Aku terkapar tumbang olehnya. Sirna.

Kini sesal terasa begitu terjal dalam. Tak kusangka akan begitu sakit terasa. Satu lagi, titik terendah pribadi ini jadi awal gerak. Sesal saja tak cukup hilangkannya saat penghitungan akhir. Saatnya ulat berevolusi menjadi kepompong. Berdiam dalam bilik gelap dan sepi. Lalu berusaha menerima kisah wangi tubuh yang sudah tertulis.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s