Berakal 

Anugerah terbesar dari Sang Maha Kuasa itu akal. Bukan harta, bukan emas, bukan kedudukan, bukan penghormatan, bukan surat tanah, bukan pekerjaan, bukan mutiara, bukan perusahaan. Apalah arti semuanya, jika pemiliknya tak berakal. Kehancuran semakin cepat melaju. Tanpa akal. Musnah lalu hilang tanpa sisa.

Harusnya akal berwadah dalam hati. Yang sederhana, ikhlas, bersih, tawaddhu’, dan terbebas angkara murka. Sebab itu akan pastikan efek lanjutannya. Jika hatinya hitam berkarat bau menyengat, akal kan ikuti. Pun sebaliknya. Mereka sebut itu dengan berakal dengan hati.

Itu- yang jadi penjaga diri. Dia anti pada keburukan. Tanpa itu-, dia jadi pemuja keburukan. Itu menurunkan nafsu kita, dicegahnya agar tetap bersemayam diatas kebaikan. Tanpa itu-, nafsu menjelma dalam diri ke bentuk monster penghuni Saqor.

Ilmu yang melekat dalam hati lahirkan amal yang pasti. Beri kontrol penuh pada nafsu. Tekan penderitaan, pengkhianatan, kejahatan, kemaksiatan. Juga keniscayaan. Peliharakan ilmu dalam hati, lalu lahirlah amal yang tak anal juga nakal.

Ilmu hanya akan menetap dalam hati yang tenang, tanpa ba-bi-bu penuh dusta. Hati jadi wadah, ilmu pengisinya. Akal hasilnya.

Kini simpuhkan kebanggaanmu dalam daratan terendah pijakanmu. Deret retorik itu harus dijiwai. Agar tampak berarti dan jadi bekal dalam perjalanan pulang.

Jadi, kapan akan kau manfaatkan anugerah itu?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s