Jalan Pulang

Tanyaku sore ini, dimana ujung dari perjalanan kehidupan ini? Akalku menjawab, ujungnya adalah kematian sebagai pintu masuk akhirat. Kemudian, perenungan baru dimulai.

Sadarkanku, bahwa aku sedang dalam perjalanan. Melewati beberapa batasan pembatas, belok kiri-kanan, harus merangkak sesekali, tak jarang harus terjatuh dalam lubang-lubang jalan tak beraspal. Beberapa bekal jadi beban dalam perjalanan, kadang kehabisan bekal. Lalu mencari bekal baru, hingga akhirnya lupa tujuan perjalanan.

Tetangga sebelah terlihat begitu tidak peduli pada perjalanannya, kini ku kembali tersadar, bukan mereka yang tak peduli tapi diriku yang sedang salah jalan. Penunjuk arah pada persimpangan sebelumnya membuatku lunglai, lalu melangkah pergi ke arah yang salah.

Begitulah sebait cerita dalam ritme perjalanan panjang. Sandungan, sedih, tawa, suram, hilang arah, kesadaran, muram, lalu lalang penuhi sadar kemudian tetap saja berjalan. 

Pencarian jalan pulang harus tetap bersuara walau hening. Sebab ini bukan cerita akhir. Episode perhitungan bukan berada disini. Dia ada diujung jalan. 

Aku. Sedang. Jalan. Pulang. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s