Yang Esensial dari Pendidikan Calon Hakim (1)

Perbincangan hangat yang terjadi siang tadi, di beberapa forum kecil di pinggiran kelas sambil menikmati snack siang adalah tentang “Seberapa besar sih manfaat Program Pendidilan Calon Hakim (PPC) ini buat kita?”. 

Terlihat beberapa argumentasi yang terus berputar-putar pembahasannya tanpa satu konsensus hingga akhir adalah seperti “pendidikan hukum yang didapat para calon hakim saat di bangku kuliah sebenarnya sudah memenuhi standar yang dibutuhkan”, ada juga yang mengkritisi bagaimana “kampus-kampus hukum di Indonesia, dengan sumberdaya yang dimiliki terlihat belum mampu melahirkan lulusan sarjana hukum yang siap dipekerjakan di lembaga-lembaga hukum”. 

Diskusi terus mengalir semakin hangat hingga akhirnya terbangun satu pemahaman yang terlihat seakan-akan PPC ini hanya mempersiapkan para Cakim agar dapat lebih survive di dunia kerja. Benarkah demikian?

Mengutip  dari Channel youtube Geolive ID, terdapat fungsi yang lebih esensial dari sebuah program pendidikan sekedar untuk mempersiapkan Anda buat nyari uang atau survive dalam dunia kerja adalah pertama, konstruksi paradigma atau pembentukan metode berpikir. Kedua, transmisi nilai sekaligus sosialisasi aturan main bersama. Ketiga, pembangunan jejaring sosial.

Fungsi pertama yang paling penting dari PPC yang sedang dihadapi ini adalah Pembentukan Paradigma Berpikir. Sering sekali dalam suasana diskusi sehari-hari kita mendapat komentar “Sok Ilmiah”, jika kita menjadi salah satu orang yang memberi komentar seperti itu, ini membuktikan betapa gagalnya pendidikan yang kita jalani. Sebab proses berpikir ilmiah seharusnya tidak hanya dalam kelas. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita harus tetap berpikir ilmiah. Yaitu berpikir yang runut, logis, berasal dari sumber yang valid, dan bertanggungjawab. Bayangkan saja, jika dalam aktivitas sehari-hari, model berpikir ilmiah seperti ini kita tinggalkan, tentu hanya akan membuat kekacauan.

Paradigma yang benar akan membentuk kesimpulan yang benar, selanjutnya kesimpulan yang benar akan melahirkan solusi yang benar pula. Sebaliknya, dengan paradigma berpikir yang salah hanya akan melahirkan kesimpulan salah, kesimpulan salah akan menghasilkan solusi yang ngawur. Solusi yang ngawur hanya akan membuat masalah semakin ngawur. 

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s