Bagaimana Jika Aku Diam Saja!

Inginku selalu terjejal pada ritme retorika komplit, riskan menjejalnya menjadi terurai apalagi merangkainya menjadi hal-hal yang menyenangkan. Lara menderma dalam drama, lalu sudutkan risau dalam pilu pekat kealpaan.

Sering bernoda, bercak warna cokelat penuhi putihnya asa, buatnya menjadi tidak indah sebagaimana harap menjelma sukma. Riuh sendau tanpa gurau penuhi rongga tawa, hilangkan rona bahagia, pekatkan suara tanpa kata, kemudian berakhir nestapa tanpa lagi berdialektika.

Apa aku harus diam saja, bagaimana jika aku diam saja, serahkan ingin pada aliran angin yang selalu bergerak.

Ya. Lebih baik diam. Utarakan durja, asa, sembilu, juga ceria hanya pada Pencipta. Agar semua unsurnya tergerakkan oleh-Nya. Lalu rasa jejal cekal rona dan aura dalam sukma ternikmati.

Tarutung. Kota Wisata Iman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s