Pemeran Utama

Lalu, aku mulai mengerti kenyang akibat deraan lapar. Tanpanya tiadalah kenyang.

Ku juga mulai kenali putih saat mereka ajarkanku warna hitam. Keduanya berlawanan dan saling topang.

Juga kembali bisa teguk nikmat bahagia sesaat setelah terpojok bersedih di sudut ruang kamar menyendiri.

Esoknya akupun berkesempatan melewati keramaian. Membuncah pecah lalu munculkan tawa yang tertawa-tawa. Lalu dunia kembali sepi dan dingin.

Kemudian aku pahami kebenaran lewat khutbah-khutbah para kontemplator setelah sebelumnya berlumur salah buat hidup semakin hampa lalu jadi fana.

Lalu aku haus. Kering terasa lalu energi badan menghilang lunglai langkahku. Ujungnya, aku kini bisa nikmati kesegaran saat tetes demi tetes airnya penuhi rongga.

Belum cukup disitu, kini akupun bisa nikmati tenang dan ketenangan. Setelah sebelumnya terhimpit dalam salah dan kesalahan yang berderet.

Kini akupun sadar. Bahwa lapar, hitam, sedih, sepi, salah, haus, dan terhimpit itu semua, bibit yang mendorong lahirnya kenyang, putih, bahagia, ramai, benar, segar, lalu tenang.

Skenario itu tertulis tanpa perencanaan tapi sudah ditetapkan. Untukmu yang sedang menanam bibit, jangan berhenti. Tekan “next” lalu lanjutkan episode hidupmu. Dunia masih miliki kebahagiaan yang dilahirkan dari deret kesedihan. Kau pemeran utamanya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s