Api Manusia

Tentang menjaga api dalam diri. Tiap insan dititipkan fungsi serta tugas yang sangat manusiawi. Penjalanan tugas dan pencapaiannya beri defenisi yang terlalu mulia bagi predikat kemanusiaan. Gelorakan gairah kepedulian, juga lupakan runcing dan tajamnya keinginan pribadi. Kemudian perlahan wujudkan tatanan kemanusiaan yang berkeadilan juga dengan nilai sosial yang tinggi.

Ini fiksi. Yang jadi sumber imajinasi tanpa batas robekkan kejumudan pikiran dan kebakuan hitam putih tanpa warna. Tapi bukan fiktif. Yang penuhi rongga merah dengan detik-detik kebohongan tanpa arah yang lurus. Bentuk fakta. Yang kemudian jadi sinar yang mengarahkan juga menerangi langkah lunglai kemanusiaan yang mulai hampa bagai ruang tanpa suara dan rasa.

Umur, siapa yang mengerti. Terbatas, juga terukur hanya sebatas jengkal. Kemudian lenyap dan dilupakan angin sore. Tanpa tanda jasa apalagi tanpa bukti pernah isi detik kehidupan. Kecuali goreskan sebait harapan pada setiap mata yang mulai redup. Sulit melihat api spirit yang semakin membara, bahkan disudut lainnya semakin meredup.

Kemudian untuk apa hidup terisi? Bukankah sederet angka-angka harta itu hanya jadi perhitungan saja kemudian hilang tanpa sisa akibat sifat konsumtif yang semakin meninggi. Juga akankah sebaris gelar tanda jasa juga hanya akan tinggal kenangan yang tidak jarang hanya buat gelap tujuan yang yang ingin dicapai kemudian semua motif duniawi kembali isi hasrat?

Sekiranya ini saatnya. Tentulah kita terpaksa membaca lebih cepat kemudian berlari dan bertanya-tanya ditengah desah nafas lelah. Akan aku isi dengan apa duniaku?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s