Sore di Tarutung

Bukit-bukit tertutup awan merah-hitam itu mengelilingi kotanya. Sore ini dia datang, membawa angin dingin buatku menggigil. Jatuhkan pandangan pada sungai cokelat yang membelah. Tawarkan aroma dan dilema yang berbeda. Waktuku habis begitu saja, terduduk merenung dipinggiran airnya yang membau.

Langit mulai tutup matanya. Hilangkan sinarnya setitik demi setitik. Kemudian gelapnya penuhi rona. Buatku harus kembali beranjak. Tinggalkan peraduan pada ombak riak dan rumput-rumput yang katanya terus bergoyang.

Diantara jejak yang tercipta, sorotku tetap terpaku pada langit. Kuasa sang pencipta itu, selalu saja hadirkan nyaman tak tersebut. Aku ingin sentuh, tapi langit mana yang mau disentuh oleh tanganku? Anginnya yang sepoi juga tenangkan sukma, ingin rasanya kugenggam dia, lalu miliki sebagian dari yang ada. Tapi angin mana yang mau tergenggam tanganku? Bukankah dia ditakdirkan bebas, tidak dimiliki insan manapun?

Kembali, aku ingin intip masa depan disela-sela gelap yang mulai menutup. Ingin yang tak akan terungkap caranya. Disudut kenaifan ini aku kembali berharap pada Sang Pengubah rasa dan warna. Tawar menawar kemudian ungkapkan rasa. Dan selipkan sebait doa lalu berharap Dia jatuhkan jawab. Pada telinga yang mulai tuli.

Atau,

Aku yang mulai kesulitan mendengar-Nya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s