Reformasi: Defenisi & Ceritanya dalam Agama

Anton Moeliono dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan reformasi berasal dari kata “re” dan “formasi” berarti “kembali” dan “formasi” berarti “susunan”. Reformasi berarti pembentukan atau penyusunan kembali. Sedangkan Bryan A Garner dalam Blak`s Law Dictionary kata reformasi disebutkan reformation An equitable remedy by which a court will modify a written agreement 

to reflect to actual intent of the parties. Begitupula dal am Dictionary of Law, disebut membentuk atau menyusun kembali. Sedangkan The Nelson Contemporary English Dictionary diartikan sebagai to make better, to improve. Kemudian Departemen Pendidikan Nasional dalam KBBI menyebutkan bahwa reformasi adalah perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara.

Dengan demikian istilah era reformasi diartikan sebagai suatu era perubahan atau penyusunan kembali terhadap suatu konsep, strategi, dan kebijakan yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Demikian pula ketika kata reformasi saat dihubungkan dengan bidang hukum dan pendidikan, maka dapat ditarik pengertian “melakukan sesuatu perubahan dengan penyusunan kembali terhadap suatu konsep, strategi, atau kebijakan yang berkaitan dengan hukum dan peradilan dengan berbagai aspeknya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam arti pembaharuan, reformasi bisa dipadankan dengan beberapa kata dalam wacana Islam, yang secara substansi memiliki kesamaan dengan reformasi, yakni tajdid dan islah. Lois Ma`luf dalam Al-Munjid al-Abjady mengartikan Tajdid mengandung arti membangun kembali, menghidupkan kembali, menyusun kembali atau memperbaiki agar dapat dipergunakan sebagaimana yang diharapkan. Sedangkan Islah menurut Ibn Manzur dalam Lisan al-Arab diartikan dengan perbaikan atau memperbaiki. Kedua kata ini sering dipakai secara berdampingan dengan pengertian yang sama yaitu pembaharuan

Meskipun demikian, Bustami Muhammad Saad dalam Mafhum Tajdid ad-Din berkesimpulan bahwa kata tajdid lebih tepat digunakan untuk membahas tentang pembaharuan hukum, sebab kata tajdid mempunyai arti pembaruan. Sedangkan kata Islah meskipun sering digunakan secara berdampingan, tetapi lebih berat pengertiannya kepada pemurnian.

Fathurrahman Djamil dalam Metode Ijtihad Majelis Tarjih Muhammadiyah menjelaskan bahwa sebagai instrumen Islam, tajdid/reformasi memiliki dua makna. Pertama apabila dilihat dari segi sasaran, dasar, landasan, dan sumber yang tidak berubah-ubah, maka pembaruan bermakna mengembalikan segala sesuatu kepada aslinya. Kedua pembaruan bermakna modernisasi, apabila tajdid itu sasarannya mengenai hal-hal yang tidak mempunyai sandaran, dasar, landasan, dan sumber yang berubah-ubah, seperti metode, sistem, teknik, strategi, dan lainnya untuk disesuaikan dengan situasi dan kondisi, ruang, dan waktu.

Oleh karena itu Yusuf Qardhawi dalam Min Ajli Shahwatin Tujaddid al-Din terjemahan Nabhani Idris, Fiqih Tajdid dan Shahwah Islamiah memberi komentar bahwa tajdid/reformasi adalah berupaya mengembalikan pada keadaan semula sehingga ia tampil seakan barang baru, dengan cara memperkokoh sesuatu yang lemah, memperbaiki yang usang dan menambal kegiatan yang retak sehingga kembali mendekat pada bentuknya yang pertama. Abdul Manan dalam Reformasi Hukum Islam di Indonesia menambahkan bahwa tajdid bukanlah merombak bentuk yang pertama atau menggantinya dengan cara baru.

Masfuk Zuhdi dalam Pembaharuan Hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam memberikan tiga unsur yang saling berkaitan dan berhubungan dalam tajdid/reformasi. Pertama al-i`adah yakni mengembalikan masalah-masalah agama terutama yang bersifat khilafiyah kepada sumber ajaran agama Islam yaitu Alquran dan Hadist. Keduaal-ibanah yakni purifikasi atau pemurnian ajaran-ajaran agama Islam dari segala macam bentuk bid`ah dan khufarat, serta pembebasan berfikit (liberalisasi) ajaran Islam dari fanatik mazhab, aliran, ideologi yang bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Ketiga al-ihya artinya menghidupkan kembali, menggerakkan, memajukan, dan memperbaharui pemikiran dan melaksanakan ajaran Islam.

Reformasi dalam Agama

Dalam konteks Islam, tajdid (untuk selanjutnya disebut reformasi) awanya terjadi ketika munculnya degerasi dan dekadensi akidah, disamping merajalelanya bid`ah dan khufarat, fabrikasi dan supertisi di kalangan uman Islam, sehingga telah membuat sebagian umat buta terhadap ajaran-ajaran Islam yang orisinil, yakni ajaran-ajaran yang tertera dalam Alquran dan Hadist. Keadaan ini menyebabkan kemunduran umat Islam, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan filsafat. Dalam situasi umat yang dekaden seperti itulah, tampil seorang pembaharu Islam pada peralihan abad ke-13 dan 14, yaitu Ibnu Taimiyah (1262-1320 Masehi). Amin Rais dalam Cakrawala Islam Antara Cita dan Fakta menambahkan bahwa Ibnu Taimiyah dianggap sebagai bapak tajdid (reformasi Islam) yang melontarkan kritikan tajam bukan saja ke arah sufisme dan para foilosof yang mendewakan rasionalisme, melainkan juga kearah teologi `Asy`ari, yang cenderung pasrah terhadap (yang diyakini) kehendak Tuhan bahkan cenderung fatalistis.

Yusuf Qardhawi dalam Dasar Pemikiran Hukum Islam juga menambahkan bahwa Ibnu Taimiyah juga berhasil mendobrak pintu ijtihad yang seolah-olah sudah ditutup pada waktu itu. Ia menekankan bahwa rekonstruksi Islam hanya dapat dilakukan dengan menghidupkan kembali semangat Ijtihad. Oleh karena itu, walaupun awalnya reformasi dalam Islam tertuju pada persoalan teologis, tetapi kemudian lebih kental dan berpengaruh pada persoalan hukum, dengan ijtihad sebagai instrumennya. Akibat munculnya gagasan reformasi Ibnu Taimiyah tersebut, melahirkan gerakan reformasi Islam pada abad ke-17 sampai abad ke-20, gerakan yang muncul tetap mendapat pengaruh dan pada dasarnya menunjukkan karakteristik yang sama seperti gagasan pokok dari Ibnu Taimiyah.

Diantara tokoh-tokoh pembaharu yang muncuk adalah Syekh Ahmad Sirhindi (w. 1625 M) kemudian dilanjutkan dengan Syah Waliullah (w. 1762 M) di Delhi India, Muhammad bin Abdul Wahab (w. 1792 M) di Jazirah Arab, Jamaluddin al-Afghani (w. 1897), dan Muhammad Abduh (w. 1905). Muhammad bin Abdul Wahab dikenal sebagai pelopor gerakan Wahabiyah, sebuah gerakan puritanisme Islam. Walaupun dipengaruhi oleh pikiran-pikiran reformatif Ibnu Taimiyah, gerakan wahabiyah tidaklah sepenuhnya merupakan duplikasi pikiran-pikiran Ibnu Taimiyah.

Pertama jika gerakan Taimiyah menyerang sufisme, maka serangannya tidak bersifat frontal karena ada segi-segi sufisme yang diakomodasi oleh Taimiyah. Sebaliknya gerakan wahabi menyerang sufisme tanpa ampun, sekalipun harus diakui bahwa berkat jasa kaum wahabi-lah pembatasan bid`ah dan khufarat berhasil secara mengesankan. Kedua sikap anti rasionalisme wahabiyah yang berlebihan. Ibnu Taimiyah juga melakukan kritik tajam terhadap rasionalisme, tetapi kritik itu tidak berakibat memojokkan penalaran rasional terhadap upaya perbaikan dalam berbagai dimensi kehidupan umat Islam, sedangkan wahabi membawa semangat anti rasionalisme yang kelewat jauh, sehingga semboyan ijtihad yang dikumandangkan tidak begitu efektif lantaran tidak diberikannya tempat yang wajar bagi intelektualisme.

Jamaluddin al-Afghani (1839-1897) berasal dari Asadabad (Iran), kemudian menjadi pembaru dan masuk ke berbagai negeri Islam. Penguasaannya atas ilmu-ilmu logika, filsafat, dan politik, mengantarkannya cepat mendapat sambutan dari kalangan intelektual muslim. Sumbangan terbesarnya adalah kepeloporannya dalam menentang pengaruh imperialisme Barat terhadap dunia Islam. Inti gerakannya dapat disimpulkan dalam dua hal, pertama usaha melepaskan negeri Islam dari penjajahan lewat ide al- Jami`ah al-Islamiyah (Pen-Islamisme), dan kedua usaha melawan pengaruh Barat dengan kembali ke sumber ajaran Islam dengan pendekatan intelektualisme modern.

Reformasi dalam agama tidak hanya terjadi dalam Islam, tetapi juga terjadi pada kristen.

Gerakan reformasi yang terjadi di Kristen merupakan pencarahan dalam aspek kehidupan keagamaan yang inspirasi awalnya digerakkan oleh adanya kesadaran baru dalam bidang teologi Kristiani dan aplikasi ajarannya. Kemunculan gerakan reformis Protestan Eropa karena alasan-alasan keagamaan, yang pada hakikatnya merupakan produk perlawanan terhadap gereja Katolisisme.

Ahmad Suhelmi dalam Pemikiran Politik Barat: Kajian Sejarah Perkembangan Pemikiran Negara, Masyarakat dan Kekuasaan menerangkan bahwa gerakan reformasi Protestan dipelopori oleh Martin Luther (w. 1546). Gerakan ini sangat berdampak luas tidak hanya dalam aspek teologi keagamaan kristiani, melainkan meluas dalam bidang pemikiran sosial, politik, serta sejarah masyarakat Eropa. Gerakan ini pada awalnya hanya sebagai tindakan protes kaum bangsawan serta penguasa Jerman terhadap kekuasaan imperium Katolik Romawi. Dalam perkembangan selanjutnya, gerakan ini telah berkembang menjadi gerakan keagamaan yang terorganisir dan terlembaga sebagai kelompok kekuatan keagamaan. Meskipun mereka tetap mempertahankan prinsip-prinsip utama ajaran Katolik, yakni kepercayaan akan ketuhanan serta dua sifat Yesus dan Trinitas, reformasi ini juga telah menumbuhkan paradigma baru di dalam ritus-ritus keagamaan dan etos kapitalisme di Barat. Dasar filosofis baru mengenai keagamaan, kapitalisme, dan negara di Barat telah diletakkan oleh gerakan ini.

Lanjutnya Will Durant dalam Story of Civilization, The Age of Reformation menambahkan beberapa penyimpangan alasan gerakan reformasi ini. Pertama banyaknya pemuka Katolik yang memperoleh posisi sosial keagamaan melalui cara- cara yang tidak etis dan amoral, dengan menyogok petinggi gereja untuk berkuasa. Kedua penjualan surat pengampunan dosa (indulgencies) merupakan penyimpangan lainnya yang turut memicu lahirnya reformasi Protestan. Ia membangun gereja Santo Petrus di Roma Vatikan dimana Paus mengupulkan dana melalui penjualan surat itu dan yang membelinya akan memperoleh ampunan Tuhan sesuai dengan besar uang yang dibayarkan. Ketiga gereja Katolik telah menjadi agen utaa untuk venetration of relics atau sakramen suci atau ritus pemujaan terhadap benda-benda keramat atau tokoh suci dalam sakramen suci.

Naisbet dalam The Social Philospher, Community, and Conflict in Western Thought juga menerangkan bahwa akibat terjadi reformasi Protestan tersebut, berpengaruh terhadap perubahan politik yang besar di Eropa dan negara Barat, yakni runtuhnya Imperium Kristen di Barat (Western Christendom) yang telah berkuasa cukup panjang, terpecah ke dalam negara yang bercorak nasional tanpa memiliki pusat kekuasaan melalui lembaga kepausan Roma. Gerakan reformasi Kristen juga telah melahirkan kesadaran politik individu serta demokratisasi politik masyarakat di Eropa di satu sisi, pada sisi lain juga melahirkan absolutis dari penguasa sekuler dengan memberikan konsepsi hak-hak ketuhanan para penguasa negara atau raja dan membentuk negara ke arah negara kekuasaan. Selain itu gerakan reformasi Protestan telah melahirkan pertikaian perang antar seagama (penganut Kristen) serta perang saudara dalam waktu yang cukup panjang.

Akhir Kata

Melalui uraian berbagai sumber diatas tentang batas uraian dan sejarah reformasi di agama-agama, dapat disimpulkan bahwa reformasi merupakan sebuah keniscayaan tatkala tatanan kehidupan masyarakat sudah berada pada titik stagnan. Dorongan untuk melakukan perubahan juga sebuah keniscayaan bagi setiap makhluk yang bergerak, mendorong terjadinya perubahan-sebab yang kekal adalah perubahan itu sendiri.

Ket: Resume Kuliah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s