Generasi Strawberry

Pagi tadi sebelum sarapan, aku sempatkan membaca tulisan ringan Rhenald Kasali dalam bukunya yang berjudul Strawberry Generation. Ada beberapa catatan penting yang pada akhirnya mengubah cara pandang dan rencana masa depanku. Buku ini mengulas banyak tentang pendidikan generasi millenial dengan kritik sana-sini yang cukup segar dan up to date.

Yang paling mencuri perhatianku ada pada tulisan pada sub-judul Deep Understanding dan Inovasi Kreatif. Kedua tulisan ini menyoroti fakta menarik bahwa hampir 75% data yang terkumpul dalam pikiran kita kurang begitu bermanfaat. Data tersebut terkumpul setiap harinya dari proses kita menghapal dan belajar dalam sistem sekolah yang kaku dan baku. Dimana informasi itu dipaksa untuk dipahami dan dihapal tanpa harus kita mengerti untuk apa informasi itu semua dihapal.

Sejarah dihapal. Peraturan dihapal. Teori-teori dihapal. Bahkan rumus-rumus pun terpaksa dihapal. Sistem pendidikan kita menuntut setiap anak Indonesia menguasai sillabus yang ada. Kitapun akan dicap gagal jika tidak mencapai standar yang ditetapkan. Juga disebut gagal jika standar kita terlalu tinggi melebihi standar. Berbeda berani aneh. Aneh berarti tidak terstandarisasi. Begitulah sistem pendidikan membentuk generasi biru setiap tahunnya. Bagaimana mungkin generasi tua mampu melahirkan generasi muda yang lebih hebat dan cepat dari mereka, jika informasi yang dimasukkan ke setiap pikiran generasi muda harus mengikuti batasan ukuran-ukuran keberhasilan mereka?

Karenanya akan menjadi tidak aneh, saat kita melihat banyak sekali peserta didik tidak memahami manfaat ilmu-ilmu yang didapat dari sekolahnya bagi kehidupan yang lebih nyata. Sebut saja matematika, biologi, fisika, sejarah, dan mata pelajaran lainnya. Apakah setiap anak harus mempelajari semua mata pelajaran ini? Atau mungkin, kita juga kini sudah menjadi salah satu produk dari sistem pendidikan seperti ini? Secara jujur, akupun merasakan demikian. Sudah banyak waktu dan tenaga yang aku habiskan untuk mata pelajaran yang tidak aku pahami manfaatnya buat hidupku. Ini tidak bisa dibiarkan terus-terusan menjajah akal dan hidupku, juga hidup anak-anakku kelak.

Setelah bertubi-tubi berdiskusi dengan tulisan Rhenald Kasali ini, aku mulai memimpikan masa depanku. Ada keinginan kuat untuk keluar dari sistem pendidikan yang kaku dan baku ini. Dan berfikir, sistem pendidikan di Sekolah Alam sepertinya menarik dan lebih berhasil menciptakan manusia-manusia baru. Bukan menciptakan robot-robot pelayan. Kelak, sekolah alam (mungkin) jadi pilihan yang tepat saat menyekolahkan anak-anakku. Anak? Haha. Ini hanya cita-cita serius sehabis makan malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s