Penghapal.

Berderet mereka para penghapal. Alunkan irama nyanyian ingatan. Merdu terdengar tanpa ragu mengirama santai. Seakan terlihat jelas di depan mata, goresan tulisan-tulisan Tuhan. Tanpa ragu, bercucur berirama bersama. Kemudian aku terkesima.

Diujung blok kehidupanku lainnya. Kemampuan mereka mengambigu. Semakin redup saat ekslusifitas merajai diri. Kaku, kalut akut kemampuan berkehidupannya. Berujung pada kejumudan. Aku takut. Dan mulai tidak terkesima.

Hari itu. Menjadi berubah. Saat terdengar kalimat “berlama-lama dalam kebaikan semakin baik”, semakin lemah kemampuan menghapal, itu artinya semakin lama dalam kebaikan. Kemudian, aku kembali terkesima. Lupa berat masalah di jalur sebelumnya.

Kini, dalam kehidupan yang sangat labil ini. Aku kembali coba-coba isi beberapa skema dari cerita hidup. Kekakuan & kemampuan kembali ingin diasah. Agar teramu manis kembali langkah.

Bukankah takutnya ketakutan pada Sang Maha harus dibarengi dengan keinsyafan nyata dalam setiap glegar kata, sikap, dan fikir? Tanyaku kemudian.

Dan. Aku mulai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s