Cakim Bukan Calon Kriminal

Megamendung itu udaranya dingin. Kalau malam, udaranya menusuk tulang sendi. Untung air di kamar mandi hangat, mandi pagi jadi lebih menyenangkan. Anehnya, setiap kamar tetap saja ber-ac. Tanyaku bingung buat apa ini semua? Tapi, ya sudahlah.

Tiga hari sudah aku disini. Dihadapkan pada pembekalan bertubi-tubi. Ditemani puluhan personel tentara sebagai pendamping. Tiupkan pluit setiap awal semua aktivitas. Bagikan snack juga makan siang selalu tepat waktu. Hibur gundah dan keluh di tengah jam pendidikan berlangsung. Kawal 1500-an calon hakim dari tiga peradilan. Ah, ini sungguh bakal selalu terkenang.

Mungkin, ratusan suku milik republik ini kini miliki ruang pertemuan ini. Representasi jadi perwakilan setiap wilayah yang penuhi udara ruang. Bersekat-sekat dalam deret baris tempat duduk. Hitam putih dengan dasi merahnya. Tak ketinggalan jilbab putih mereka. Tambah ketenangan kalbu. Beda lagi kalau malam, ruang ini dipenuhi ukiran indah budaya lokal disetiap pakaian batik yang dikenakan. Juga jilbab yang berubah warna. Menjadi lebih berwarna.

Kita disebut Octasa. Octa berarti delapan Sa berarti satu. Sebut ibu Dewi, pengelola pembekalan, kami itu angkatan delapan dan harus selalu menyatu. Mustahil bisa kenal 1500-an cakim satu persatu. Tapi aku harus mulai mengenali mereka satu persatu. Ini bagian dari misi silaturrahmi. Seperti ajaran saat ber-HMI.

Malam inaugurasi jadi penutup. Deretan penghibur lantunkan syahdu diatas panggung. Dari yang sopan tertutup pakaiannya, hingga yang terlihat belahan dada dan paha putihnya. Buat beberapa cakim memilih keluar dan habiskan waktu buat muroja’ah di masjid maghfiroh saja. Masjidnya pusat pendidikan. Tapi itu semua pilihan. Berjaga diri harus jadi prioritas. Buat mereka yang yakin tetap terjaga, biarkan saja. Asal semua tetap baik dan aman-aman saja.

Jujur dan adil jadi cambuk pemacu. Dua sifat yang harus dijadikan acuan. Langkah kedepan bakal lebih terjal. Hingga datang ajal. Ikhlaskan tubuh dan pikiran. Biarkan kejujuran dan keadilan menari-nari dalam sendi dan aliran darah. Itu mereka sebut sebagai defenisi hakim. Kami disebut calon hakim. Disingkat cakim. Bukan calon kriminal.

Megamendung, 23 Februari 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s