Kelana. Rintik. Rindu

Kelana. Jejak bertapak-tapak disertai tetesan keringat keluh dan asa yang bercambur jadi debu penyemangat langkah kelu kaku itu. Deretan tanah merah yang terlangkahi pertanda hadirnya diri walau tidak lagi sendiri dan berubah meng-ambigu. Sempurnanya sinar mengharap iba setiap sinis yang terpancar dalam ambisi. Mereka sebutnya kelana.

Rintik. Episode titik kumpulan sebait sajak hujan tak terkira banyak jumlahnya. Hadirkan imun kenyamanan untuk jiwa yang lupa nikmat ketentraman. Mungkin bukan lupa, kepergiannya bukan buta. Hilangnya tanpa harga. Resapi saja, semakin meresap semakin tersebut namamu Rintik.

Rindu. Ah, dirimu bahan rinduku. Tiada deret huruf mampu defenisikan, seberapa dalam dia jadi rindu. Itu kalimat tanpa defenisi tunggal. Jamakpun ternyata jadi haknya. Itulah Rindu.

Ciputat, 26 Januari 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s