Kenapa harus memperjuangkan Kesetaraan Gender?

Terdapat konstruk budaya yang membentuk pembagian tugas dan tanggungjawab antara seorang laki-laki dan perempuan. Konstruk ini pula yang kemudian menentukan, pilihan-pilihan normal seorang anak laki-laki dan perempuan, dan akan menjadi aneh dan tabu, jika seorang laki-laki ataupun perempuan memilih hal yang diluar batas kebiasaan konstruk yang tercipta dan terbentuk dalam waktu yang cukup panjang. Saat seperti ini, muncullah diskriminasi yang menyebabkan seorang laki-laki atau perempuan yang memilih jalur lain kehilangan akses, terputusnya peran dan partisipasi, tidak punya kekuatan kontrol, dan kehilangan manfaat dan pemanfaatan. Runtutan perjalanan ini pulalah, yang akhirnya melahirkan ketidaksetaraan antar makhluk hidup. Tidak melihat pada jenis kelaminnya. Relasi kuasa menjadi alat untuk melakukan diskriminasi bahkan diakui lewat lembar-lembar yang berkekuatan hukum. Lebih radikal, saya menyebutnya dengan kejahatan yang dilakukan negara.

Anehnya, akibat terlalu fokus pada kajian dan pembahasan gender, tidak sedikit orang yang dilabelin kafir karena keluar jalur. Memang tidak sedikit pula dari mereka yang memperjuangkan keyakinan akan kesetaraan gender ini memilih cara-cara berbeda hingga menghantam nilai-nilai abadi yang diyakini secara mutlak kelompok lainnya. Lalu muncullah kategorisasi gap-gap yang terbentuk. Pengkategorisasian ini mungkin hanya bermaksud untuk mempermudah pengelompokan kelompok dengan pemahaman yang sama, namun dalam relung hati terdalam, pola ini kadang membuat kelompok-kelompok ini jadi punya alasan yang kuat untuk saling adu-hantam dan mengklaim kebenaran hanya miliknya saja.

Fakta lainnya terlihat, perang dingin antar kubu-kubu kelompok akademisi ini terlihat semakin kasar saja setiap harinya. Tentu ini seperti aksi premanisme dalam dialog keilmuan. Akan tambah seru saat isu ini menjadi lebih tegang saat dibisikkan ke telinga penggerak organisasi massa. Ini bukan aksi baperHanya ingin mengurai masalah dan bertanya “Kenapa sulit sekali menyatukan paham?” atau -kenapa aku bisa sampai lupa- jika memang kita ditakdirkan untuk berbeda, maka mencari titik temu adalah solusi.

Kembali ke tulisan di awal paragraf.

Pembagian peran dan tanggungjawab akibat konstruk budaya yang terbentuk itu kemudian disebut dengan gender. Dalam bahasa Inggris Gender, Prancis Gendre, dan Latin Genealis. Dalam The New Glories Webstrer International Dictionary of the English Language diartikan sebagai social disposition, genius, characterized by kindly warmt of diposition. Namun anehnya, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefenisikan sebagai jenis kelamin. Lebih lengkap PERMA No. 3 tahun 2017 mendefenisikan gender sebagai konsep yang mengacu pada peran, fungsi dan tanggungjawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari/dan keadaan sosial dan masyarakat. Jadi gender tidak bisa didefenisikan lagi sebagai jenis kelamin. Hilary M Lips dalam Sex and Gender: An Introduction menjelaskan kalau awalnya kata gender dan jenis kelamin/seks digunakan bergantian untuk menunjukkan arti yang sama. Kemajuan dan perkembangan sosial-ilmu pengetahuan membuatnya terpisah sehingga tidak lagi menunjukkan arti yang sama. Kata jenis kelamin/seks digunakan untuk menunjukkan kejantanan atau feminitas dari aspek biologis sedangkan gender untuk menunggukkan kejantanan atau feminitas dari aspek non-biologis. Artinya gender terbentuk sebagai suatu ketentuan sosio-culture yang sangat ditentukan oleh peran masyarakat (akulturasi yang berkesinambungan).

Jadi apa yang kita perjuangkan saat merindukan keadilan dan kesetaraan gender?

Tentu tidak semua orang yang kemudian akan memilih jalan ini, jika tanpa perenungan mendalam. Betapa melebarnya paham-paham bias gender yang sangat membahayakan ini. Membakar semak-semak kering dan memperbesar diskriminasi. Menghantam ketenangan dan kenyamanan setiap orang, tanpa melihat jenis kelamin. Jika masalah ini terus didiamkan, masa depan generasi setelah kita jadi sangat membingungkan. Bagaimana mungkin kita masih sanggup diam, setelah membaca Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan tahun 2017. Kamu bisa baca langsung disini. Bagaimana kalau itu terjadi pada ibu, istri, anak, atau saudara perempuan kita?

Atau bagaimana mungkin kita masih sanggup tidak peduli pada masalah sosial yang cukup krusial ini, setelah melihat diskriminasi dan kriminalisasi terhadap perempuan terkodifikasi dalam putusan-putusan hakim dimana sebenarnya, hanya Pengadilanlah satu-satunya menjadi tempat pengaduan dan harapan para perindu keadilan dan kesetaraan. Kamu bisa analisis sendiri melalui link ini. Bagaimana jika mereka yang tidak menemukan keadilan itu adalah ibu, istri, anak, atau saudara perempuan kita?

Tersebar banyak data dan fakta yang bisa kita telusuri hanya dengan satu kali klik lewat akses internet. Semua dokumentasi dan fakta masih tersimpan baik di jejak digital ini. Apa pendapatmu?

 

 

3 tanggapan untuk “Kenapa harus memperjuangkan Kesetaraan Gender?

  1. kesetaraan gender adalah hal mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. Konstruksi sosial bahwa laki-laki maskulin dan perempuan feminim lalu mengindentifikasikan laki-laki cocok di ruang publik dan perempuan di ranah domestik tidak berdasar. Oleh sebab itu diperlukan banyak upaya agar kesetaraan gender dapat terwujud. Salah satunya melalui tulisan ini. Semoga mampu meningkatkan implementasi kesetaraan gender di Indonesia. Amiiiin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s