Kenali UU Perkawinan sebelum memutuskan untuk menikah!

Disela-sela kesibukan menyelesaikan tesis dalam menganalisis putusan-putusan kasasi tentang perceraian di tahun 2015, satu hal yang saya pikirkan setelah membaca beberapa putusan tersebut. Ternyata pemahaman masyarakat Indonesia terdapat UU Perkawinan sangat kecil. Untuk ikut serta menyelesaikan masalah ini, saya mencoba membuat tanya-jawab seputar aturan hukum tentang perkawinan di Indonesia yang bersumber dari Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Semoga upaya ini jadi menambah pemahaman kita tentang perkawinan sebelum memutuskan untuk menikah. Supaya sakinah, mawaddah, wa rahmah. Amin.

Seperti apa undang-undang mendefenisikan perkawinan?

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Lihat seberapa seriusnya negara memberi defenisi pada perkawinan sampai-sampai menggunakan kalimat “Ikatan lahir-batin”.

Apa yang harus dilakukan pasangan yang ingin menikah agar pernikahannya sah?

Perkawinan berstatus sah jika dilakukan menurut hukum masing-masing agama/kepercayaan dan dicatatkan/mendaftarkan perkawinan ke lembaga pencatatan perkawinan. Jika beragama Islam ke KUA dan jika non-Islam ke kantor catatan sipil. Hati-hati, jangan sampai kamu (khusus wanita) mau dinikahi tanpa dicatatkan ke lembaga pencatatan nikah, karena itu berefek pada hilangnya kekuasaan negara untuk membantumu jika suatu hari nanti hak-hak mu sebagai istri tidak diberikan suami. Karena sebagai sebuah negara hukum, saluran yang tepat buat menyelesaikan seluruh sengketa hukum demi mendapatkan putusan yang adil sudah disediakan melalui Pengadilan, dan Pengadilan hanya akan menerima perkawinan yang sah. Jika tidak dicatatkan, bakal jadi tambahan beban diakhir.

Jika suatu saat nanti suami ingin melakukan Poligami, apa alasan yang diterima oleh negara?

Pada dasarnya, negara kita menyarankan kepada seluruh masyarakat untuk menikah satu kali saja atau sering dikenal dengan istilah Monogami. Namun dalam keadaan tertentu, negara membuka peluang buat suami/laki-laki beristri lebih dari satu dengan alasan: (1) Istri sudah tidak dapat lagi menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri (2) Istri mendapatkan cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan (3) Istri tidak dapat melahirkan keturunan.

Apakah hanya dengan alasan diatas, setiap suami/laki-laki bebas melakukan poligami?

Tidak! Negara sangat berhati-hati saat memberlakukan kesempatan poligami seperti ini bagi suami/laki-laki. Jika terdapat salah satu dari ketiga kondisi diatas, suami/laki-laki dapat mengajukan permohonan poligami kepada Pengadilan dengan membawa syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Mendapatkan persetujuan (tertulis dan bermaterai) dari istri/istri-istri (jika sebelumnya si suami sudah beristri lebih dari satu).
  2. Ada bukti otentik yang dapat memastikan suami mampu menjamin kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya. Ini dapat dibuktikan dengan slip gaji/bukti pendapatan dan penghasilan lainnya.
  3. Ada jaminan dari suami akan berlaku adil terhadap istri dan anak-anaknya.

Ketiga syarat ini dibawa suami ke Pengadilan sebagai syarat formil mengajukan permohonan. Jika masih kurang? Balik ke rumah dan lengkapi dulu.

Bagaimana jika istri kita tidak pernah ada kabarnya/menghilang apakah suami bisa poligami?

Syarat-syarat diatas tidak berlaku buat suami yang memiliki istri yang tidak diketahui keberadaannya sekurang-kurangnya 2 tahun.

Baik, saya sudah mulai memahami. Lalu apa saja syarat-syarat melakukan perkawinan?

Buat kamu yang akan/segera melakukan pernikahan, berikut syarat-syaratnya. Cek dan pastikan kamu sudah melengkapinya:

  1. Harus didasarkan pada persetujuan kedua calon mempelai. Tidak boleh ada keterpaksanaan.
  2. Minimal berumur 19 untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan, dan jika umurmu belum mencapai 21 tahun, harus mendapat izin dari kedua orang tua.
  3. Jika orang tua tidak memberikan izin, kamu bisa meminta dispensasi perkawinan ke Pengadilan. Nanti Pengadilan akan memanggil dan mendengar alasan-alasan penolakan. Jika memang jodoh, pasti akan bersatu.
  4. Salah satu mempelai tidak sedang dalam ikatan perkawinan dengan orang lain. Jika seorang wanita akan menikahi laki-laki yang sudah menjadi suami orang lain, maka berlaku syarat-syarat poligami seperti yang diatas sudah dijelaskan.

Siapa saja yang tidak boleh kita nikahi?

  1. Berhubungan darah dalam garis keturunan lurus ke bawah atau ke atas.
  2. Berhubungan darah dalam garis keturunan menyamping yaitu antara saudara, antara seseorang dengan seorang saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya.
  3. Berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu/bapak tiri.
  4. Berhubungan sesusuan, anak sesusuan, saudara dan bibi/paman sesusuan.
  5. Berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau kemenakan dari istri, dalam hal seorang suami beristri lebih dari seorang.
  6. Mempunyai hubungan yang oleh agamanya/peraturan lainnya dilarang untuk dikawini.

Jika terdapat pasangan yang tetap ngotot akan melakukan perkawinan dengan orang-orang yang tidak boleh dinikahi/keadaan tidak disukai oleh keluarga, apa yang harus dilakukan keluarga?

Jika kasus ini terjadi di keluargamu, kamu dapat melakukan pencegahan perkawinan ke Pengadilan Agama (untuk yang beragama Islam) dan ke Pengadilan Negeri (untuk yang bukan beragama Islam).

Bagaimana jika keluarga kedua mempelai kecolongan, artinya perkawinan sudah dilakukan namun kemudian hari baru diketahui terdapat syarat-syarat perkawinan yang dilanggar?

Keluarga/suami/istri/pejabat yang berwenang bisa memohonkan pembatalan perkawinan ke Pengadilan.

Bagaimana jika pasangan tersebut sudah memiliki anak, dan baru diketahui oleh keluarga bahwa perkawinan yang dilakukan tidak memenuhi syarat perkawinan?

Status anak tetap anak sah kedua pasangan tersebut. Artinya tanggungjawab untuk mengasuh dan membesarkan masih menjadi tanggungjawab suami dan istri tersebut.

Dapatkah kita membuat perjanjian perkawinan antara kedua mempelai?

Bisa dong! Negara memfasilitasi ini selama disepakati oleh kedua belah pihak dan perjanjian yang dibuat tidak melanggar hukum dan aturan agama masing-masing.

 

 

3 tanggapan untuk “Kenali UU Perkawinan sebelum memutuskan untuk menikah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s