Tentang 2017 (Bagian 2)

Awal tahun 2017 menjadi langkah awalku memulai dunia baru-dunia wirausaha. Tidak ada rekam jejak sebelumnya tentang kewirausahaan. Dari silsilah keluarga, atok (sebutan buat kakek dari ayah) memang pedagang. Tepatnya bertani sambil berdagang. Sedangkan dari cerita ummi, saat muda ayah juga pernah berdagang. Mencoba mencari peruntungan di dunia baru, kumulai langkah awal.

Beberapa teman pernah bertanya caraku memulai bisnis ini. Oh ya, sebelumnya aku mau jelaskan, akhirnya setelah punya ide buat buka kafe, aku menghimpun beberapa teman menjadi pengelola sekaligus investor awal. Dan langkah awal yang aku lakukan adalah membuat desain dalam tabel Business Canvas Model (BCM).

BCM semacam proposal mini yang bisa jelasin secara sederhana, model bisnis seperti apa yang kita inginkan. Apa produk yang ditawarkan. Siapa saja target market, dan banyak lagi-kalau ga salah ada 8 kolom yang harus kita uraikan. Alat ini membuatku semakin mudah menjelaskan maksud dan keinginan kepada teman-teman calon investor.

Langkah kedua, menghitung rencana anggaran biaya untuk 4 bulan kedepan. Biasa pengeluaran/cost terbagi dalam dua jenis yaitu variable cost dan fixed cost. Penghitungan mesti dilakukan secara detail dan rill. Tanpa harus menggandakan nilai materi seperti penyusunan proposal pada umumnya. Nah, setelah penyusunan anggaran selesai barulah kita lakukan hal yang terpenting: Mengumpulkan modal awal. Tanpa hal yang satu ini, ide hanya tinggal dalam khayalan.

Ide yang kami eksekusi di bulan Februari lalu adalah membuat kafe berbasis komunitas. Beberapa hal yang melatarbelakangi pendirian unit usaha ini akibat banyaknya komunitas sosial yang muncul beberapa tahun terakhir, hampir semua komunitas butuh ruang ekspresi yang low budget. Belum lagi kebutuhan basecamp komunitas menjadi hal yang wajin ada buat ngedukung operasional organisasi. Hasil dari analisis ini, kami cita-citakan kafe ini nantinya jadi tempat ngumpulnya komunitas, bebas biaya buat acara, meeting, atau agenda lainnya. Dan kami sediakan makanan dengan kualitas yang sama dengan tetangga sebelah tapi harga lebih bersahabat. Bismillah kami mulai.

Awal buka tidak semulus yang diprerkirakan, ternyata kami harus melakukan renovasi yang cukup besar. Ini akibat kurangnya analisis kami melihat kondisi bangunan diawal. Jadwal launching pun beberapa kali diundur. Belum lagi kita harus menyiapkan SDM yang harus ditraining berkali-kali. Untungnya, tim pengelola bisa menyikapi kebutuhan mendesak ini dengan cepat.

Bangunan sudah selesai direnovasi, produk dan harga sudah ditentukan, lokasi belanja bahan baku sudah dipilih, petugas dan pembagian tugas sudah rapi, perlengkapan dapur dan manajemen stock sudah oke, jadwal piket sudah disusun, mulailah kafe dibuka!

Pelajaran terpentingnya adalah diawal jangan salah pilih tim. Pastikan tim pengelola memiliki keahlian di bidangnya masing-masing. Selain pengetahuan, butuh juga kedekatan emosional antar pengelola. Kedekatan menentukan seberapa kasar perdebatan akan terjadi. Jangan bayangkan semua akan baik-baik saja tanpa rintangan. Justru sebaliknya, semuanya bermasalah dan butuh solusi.

Kini sudah 10 bulan kafe berjalan. Masa-masa sulit bergantian datang. Sebagai renungan pribadi, tentu harus yakin semua proses ini mendidik diri sendiri. Aku ingat betul, bagaimana dalam prosesnya aku belajar sabar, belajar marah, belajar bekerja dalam tim, dan banyak ilmu lainnya yang didapat. Harus dibayar dengan motivasi, semangat, dan keyakinan. Tidak bisa diberi nilai rupiah dalam setiap jengkal prosesnya.

Akhir dari kisah ini?

Episode kepengelolaan kafe-pun harus berakhir. Cita-cita besar ingin jadi wirausahawan harus berhenti untuk sementara waktu. Dan kembali melanjutkan cita-cita lama yang dikabulkan. Pelajaran selama 10 bulan mengelola kafe pada malam hari, dan bekerja di siang hari sudah kulewati. Banyak kontemplasi yang berulang kali aku lakukan. Banyak kisah dan pelajaran berharga yang kulewati. Lalu, aku ikhlas dan siap melepas cerita ini.

Doaku di penghujung tahun ini, semoga Insomniak tetap memberi kebermanfaatan. Hadir membantu komunitas dan memfasilitasi kebutuhan dasarnya. Jadi rumah bagi semua komunitas. Rumah terakhir akibat penatnya berhadapan dengan sistem ekonomi kapitalis. Semoga Allah meridhoi setiap usaha kita. Amin

(Bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s