Tentang 2017 (Bagian 1)

Alhamdulillah. Akhirnya sampai juga aku dipenghujung tahun 2017. Serius! 365 hari dalam satu tahun ini terlewatkan dengan cepat. Rasanya, baru kemarin aku berada di Januari 2017. Memasuki tahun ini dengan penuh harapan, akan kehidupan yang lebih baik. Sungguh! Ini terlalu cepat.

Syukurku juga kepada Allah yang masih memberi amanah umur buat aku habiskan. Aku akui, tidak semua hari yang kupunya aku isi dengan maksimal. Masih ada hari-hari yang aku isi dengan aktivitas kosong tanpa arti, atau aku isi dengan aktivitas-aktivitas salah yang dilarang. Tapi, semua ada hikmahnya, tentu!

Ini pulalah kenikmatan saat kembali merenung dan menuliskan cerita hidup kita. Terkenang segala dosa yang sudah dilakukan, sesal terdalam saat mengingat banyak hati yang tersakiti sepanjang tahun ini, akibat tingkah laku-ulah yang tidak normal. Terkhusus buat ayah dan ummi, yang perhatian dan fokusku untuk mengabdi pada keduanya sangat minim selama ini. Saat di penutup tahun ini, ingin rasanya punya satu mesin waktu, yang bisa mengembalikanku ke awal tahun dan perbaiki semua salah itu. Naif. Tentu tidak mungkin.

Kesyukuran berikutnya yang sangat terasa, adalah saat aku masih berada ditengah-tengah orang baik. Yang ikhlas berteman denganku, sama-sama berbagi kebermanfaatan yang ga hanya buat diri sendiri. Walau jauh di perantauan, aku merasa tetap punya banyak keluarga. Ada Komunitas Untuk Negeri, Gerakan Banten Mengajar, Gerakan Kampung Alquran, Gerakan TurunTangan, Gerakan Ayo Mengajar, Ikatan Keluarga Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Forum Ukhuwah Mahasiswa Sumatera, Komunitas Mahasiswa Sumatera Utara, Yayasan Filantropi Indonesia, Japfa Foundation, Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Insomniak, Foodmaniak, SDI Ruhul Amin, aku nyaman jadi bagian dari keluarga besar ini. Semoga semua kebaikan yang terjadi, jadi kebaikan yang berlipat ganda dihari berikutnya, Amin.

2017 ini umurku-pun genap 26 tahun. Pencapaian umur sejauh ini tentu jadi alarm buat hidupku, bahwa jatah hidup semakin menipis. Ingat umur, pikiranku mengarahkanku buat ingat mati. Apa jadinya kalau aku mati besok? Tidak ada bekal yang cukup buatku, agar selamat dari neraka. Kadang, diri ini sudah sadar. Tapi istiqomah menjadi benarpun butuh perjuangan. 2017 ini betul-betul memberiku peringatan.

Juga bersyukur, karena diberi kesempatan buat bisa belajar mengembangkan kemampuan bisnis. Walau terbilang tidak terlalu berhasil, bersama teman-teman kami berhasil memulai usaha Insomniak dan Foodmaniak. Bahagia yang terbesarnya adalah saat kita punya tim kerja, yang setiap akhir bulan harus digaji. Kondisinya semakin menantang, saat kas belum cukup buat menggaji. Haha! Masa-masa genting itu ternyata bisa terlewatkan. Sudah 10 bulan. Ga terasa.

Tahun ini juga, akhirnya aku mendapat kesempatan emas buat bergabung dengan tim yang cukup hebat dalam merancang program program sosial berkelanjutan. Harapan besar dan doa terbaikku selalu buat Japfa Foundation. Yayasan dari perusahaan PT. Japfa Comfeed Indonesia ini jadi rumah baruku selama sembilan bulan sejak Maret s.d Desember.

Dan, satu hal yang berhasil mengubah jalan hidupku di tahun berikutnya adalah, saat aku lolos seleksi menjadi hakim di Pengadilan Agama. Cita-cita lama yang terkabul saat aku mulai melupakannya. Inilah takdir, Allah selalu merencanakan kehidupan yang tidak melampaui batas kemampuan hamba-Nya.

Hari ini aku berdoa, agar Allah beri aku kasih dan sayang-Nya. Agar aku tetap jadi manusia yang sadar.

(Bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s