Takut.

Jawaban. Keadaan. Harapan. Keinginan. Ketidaktahuan. Kemajemukan. Kekeringan. Kemewahan. Keberhasilan. Ketakutan.

Senja yang menakutkan. Akan harapan berlebihan yang dilontarkan. Meramu racikan penderitaan saat melontarkan. Tegang, bingung, dan tiba-tiba menjadi aneh.

Saat itu, awan terhenti. Deretan kucuran darah nadi mulai keras membeku. Keberanian tertinggi dipuncak terpucuk ambruk. Ini pertama kali hadir. Rasanya bagai terjepit dinding menyempit.

Tiada yang tahu. Ketakutan hasilkan ketakutan baru. Bukan! Atau keberanian itu yang lahirkan takut. Atau, itu bukan keberanian, tapi ketakutan? Aneh. Dan hingga malam-jawabannya tidak terjawab.

Kini, semua serba beralasan. Takut bunga jadi tujuan, hilangkan nilai dan asa suci. Hati mulai berontak, sebab semua milik Illahi Rabbi. Sulit, saat ketidaktahuan dianggap bukan masalah.

Kebingungan itupun munculkan kebingungan baru. Tapi! Ini bukan diriku. Seharusnya tidak seperti ini. Bukankah harap dan cemas terlalu sering bersatu dalam raga, dan lolos lewati deret angka kesulitannya?

Konon, itu memang sulit. Semangat akal ingin buktikan kebenaran. Akan sangka dan perasaan bingung yang berkeliling liar di pikir. Menjadi debu, tak berbentuk apalagi beraroma kasturi. 

Ini namanya takut. Tak kan aku kalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s