Marah.

Indahnya hidup karena marah. Marah munculkan bahagia. Timbulkan sedih, sesal, kelu, dan kesah. Marah munculkan hidup. Tanpa hidup, marahpun tidak akan hidup.

Sore ini aku coba kembali berfikir. Akibat marah berkelanjutan yang sesalkan hatiku. Mulai cari solusi dan tarik garis panjang kebelakang. Coba urai titik demi titik hidup yang dilewati.

Akhirnya, kutemukan defenisinya. Marah itu manifestasi kesombongan. Sombong munculkan sikap dominasi. Dominasi munculkan sikap menguasai. Kekuasaan lahirkan sikap penindasan. Selesai. Uraiannya kini aku sepakati.

Marah kepada penguasa tidak akan mungkin terjadi. Marah bawahan pada atasan. Marah anak buah kepada bos. Marah menteri kepada presiden. Marah kader partai kepada petinggi partai. Tidak mungkin terjadi.

Marah hanya mencari objek lain yang lebih rendah. Ini resiko berdiri didaratan yang lebih rendah.

Marah? Hampir semua sesali sikap diakhir aktivitasnya. Marah akibat kesombongan pasti lahirkan sesal. Marah buat harga diri tidak berharga. Jatuh sejatuhnya kedasar terjal.

Adakah marah yang terhormat? Tanyaku selanjutnya.

Ada! Marah yang menghormati orang lain. Tak ayal, marah sering kali menjatuhkan. Marah menekan kebahagiaan. Marah yang membuat bodoh semakin bodoh.

Dengan menghargai orang, marah akan berbeda dasarnya. Kalau marah yang hanya munculkan emosional hanya lahirkan penindasan, marah yang mendidik akan lahirkan perubahan.

Jangan sombong. Hargai orang. Dan bayangkan, posisinya terbalik. Ini lebih anggun. Kalau seperti ini, marahlah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s