Membangun Masa Depan

Pikirku malam ini, bagaimana masa depanku?

Dua hari menuju umur 25 tahun-tepat 1/4 abad hidup terbentuk. Tapi pikiranku masih saja kadang membingungkan diriku sendiri-akan bagaimana aku di masa depan. Masa dimana aku melangkah memenuhi umur agar genap hingga di angka 50 tahun-di masa yang akan datang.

Labil! Ini kata mereka yang sudah melebihi umurku sekarang. Anak muda memang terlalu besar emosi kesenangan dan kesedihan yang diterima. Wajar kalau anak muda terlalu sering melupakan “sabar” sebagai kunci setiap keberhasilan. Petuah bijaksana itu sering aku dapat-setiap saat aku akhirnya menyerah. Tidak tahan memendam pikiran sendiri dan menumpahkannya di depan beberap senior yang aku anggap menjad jawaban setiap dilema yang kupunya. Walaupun kadang, pilihan untuk melupakannya dengan tidur seharian suntuk menjadi pilihan. Konsultasi kepada senior-kerap jadi alternatif keduaku.

Sebuah teori baru terbacaku, sekitar dua hari lalu. Muncul dari fakta-dimana manusia saat berumur 20-30 tahun kerap tersesat arah lintang dan tujuan. Bukan karena tidak tau arah-tapi karena lagi mencari arah. Mencari arah dan akhirnya tersesat. Umru 30 tahun menjadi penentu. Katanya, saat di umur 30 tahun dan kita sedang melakukan suatu hal-maka pola kerja itu yang akan permanent senantiasa menjadi pilihan aktivitas kita hingga berakhirnya umur. Proses ini seperti semacam fakta baru yang membuatku semakin takut-walaupun kadang aku mengkampanyekan “Jangan takut dengan masa depan”, itu karena aku sering merasakan takutnya menghadapi masa depan.

Inilah hidup, selalu saja yang hadir adalah “Antitesa” dari sesuatu yang kita takuti. Semangat hadir karena kemalasan. Saat kita sadar malas itu tidak baik, muncullah semangat. Optimis juga hadir karena pesimis. Saat kita sadar sikap pesimis membuat kondisi semakin sulit maka kita memilih optimis. Kejujuran adalah buah dari kebohongan. Saat kita mulai mengerti arti sakitnya dibohongi, maka kitapun mulai menjalani hidup dengan kejujuran. Sehat-pun tercipta dari rasa yang diterima saat sakit bertubi-tubi menghantam pikiran, hati, dan tubuh yang menua setiap harinya. Inilah hidup-yang hadir adalah antitesa dari setiap tindak dan sikap.

Lantas, ditengah tamparan ombak keseraman masa depan yang semakin kaku dan abstrak-akankah kita harus menghadapi masa depan dengan takut? ataukah kita harus optimis menghadapi dan mulai melupakan rasa takut saat rasa iu kembali hadir menghantui? Ataukah-tidak masalah kita hadapi masa depan itu dengan ketakutan, sebab buah dari rasa ketakutan bisa saja membuat kita lebih berani dan nekad.

Aku teringat cerita-saat seorang kawan mengaku dapat berlari sangat cepat saat dikejar seeokor anjing. Ketakutan yang memuncak menghasilkan energi diluar batas kemampuan dan akal pikirannya. Sampai-sampai sebuah pagar tinggi di depan rumahpun-pengakuannya-dapat diloncati. Aku konfirmasi kepada saksi mata-ternyata benar. Dia melihat dan juga heran.

Disitu aku mulai berfikir-apakah semua ketakutan dapat melahirkan tenaga yang tak terduga seperti kisah tadi?

Entahlah. Walau sebagian orang beranggapan “rasa takut” itu adalah sikap pesimis terhadap kemampuan diri (keberanian diri), aku memilih menikmati saat dimana hatiku mulai merasakan takut. Dan juga menikmatinya saat hati mulai (kembali) berani dan memberanikan diri. Untuk lewati hidupku. Hidup untuk kematian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s