Negara dan Politik?

Sekali lagi, diskusi politik menjadi topik yang ramai diperbincangkan. Konstelasi Pilkada DKI Jakarta beraroma Pilpres ini berhasil memaksa mulut-mulut yang selama ini kaku dan kerap menjauh memikirkan urusan politik negeri, ikut terlibat dan memberi komentar. Jangan tanya kualitas komentarnya, sebab-saat ini seluruh warga dari latar belakang pendidikan dan pengalaman yang berbeda, semuanya memberi komentar.

Sekitar dua bulan lalu-pun, akhirnya aku block permanen beberapa teman di Facebook yang selalu saja menggunakan media pertemanan facebook ini untuk berbicara frontal, kritik sana sini, buktikan dukungan kuat dan hancurkan sekat persahabatan setiap kali saling beradu gagasan di kolom komentar. Model seperti ini, kadang berhasil buat kita kembali memilih untuk meninggalkan seluruh pembahasan mengenai negara ini!
Beberapa bulan ini juga saya terlibat diskusi serius dengan beberapa teman yang “sepertinya” mulai ingin terlibat aktif, ikut menyelesaikan masalah bangsa. Beberapa dari mereka sangat optimis dan selalu tampilkan sikap positif. Percaya bahwa masalah negara ini tidak akan bisa terselesaikan hanya dengan menitipkan masalah hanya kepada pemerintah. Sinergi seluruh anggota keluarga republik ini dibutuhkan.

Kolaborasi jadi kunci dan juga solusi.

Ada pula beberapa teman yang menunjukkan sikap acuh. Sudah stuck dan yakin bahwa ini bukan urusan mereka. Saya tidak terlalu tertarik menuliskan tentang mereka.
Lantas, apa sikap kita terhadap politik?
Masalah di republik ini terlalu banyak, cara primitif yang menitipkan masalah hanya kepada pemerintah terpilih, dan berharap masalah itu diselesaikan sudah ketinggalan zaman! Juga-hanya memilih membayar pajak negara setiap bulan, lalu mempercayakan uang yang kita setor ke negara dikelola tanpa pemantauan dari kita, juga sudah ketinggalan zaman! Juga-menunggu janji-janji pemimpin yang terpilih tanpa memberi kontribusi juga sudah bukan eranya lagi.
Bagi saya pribadi, ini eranya sinergi dan kolaborasi. Setiap masyarakat harus ikut memantau dan mengawasi. Ikut terlibat dalam porsi yang lebih mikro. Bagi yang miliki ide dan gagasan, sebarkan ide itu! Bagi yang punya uang berlebih, sumbangkan uang itu. Bagi yang punya ilmu, sumbangkan ilmu itu. Berhenti terus menuntut perubahan, jadilah bagian dari perubahan itu sendiri.
Kesimpulannya, kita (pemuda) terpecah menjadi dua kelompok yang berbeda saat memandang urusan negara. Pertama, mereka yang menuntut perubahan dan kedua kelompok yang melakukan perubahan. Kamu pilih kelompok yang mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s