Rasionalitas Politik Versus Emosi Politik

Sangat menarik membaca tulisan M. Qodari Direktur Eksekutif IndoBarometer di Majalah Gatra siang tadi, ulasan singkatnya tentang konstelasi Pilkada DKI Putaran Kedua berujung pada pertanyaan “Siapa yang akan memenangkan putaran kedua?”, disertai prediksi jawaban ganda saat melihat tarik menarik antara rasionalitas politik (kepuasan kinerja) dan emosi politik (sentimen agama).

 Jika yang unggul adalah kepuasa kinerja maka dipastikan Ahok-Djarot akan terpilih. Namun jika yang dominan adalah sentimen agama, maka yang unggul adalah Anies-Sandi. Kita lihat saja nanti, tutupnya.
Bagi warga Sumatera Utara yang sedang bermukin di Jakarta, Pilkada Jakarta berhasil menciptakan harapan sekaligus kegelisahan yang menyatu dalam rasa dan asa. Tentu sebagai putera daerah, akan sangat ingin jika pertarungan ide dan gagasan seperti yang terjadi di Pilkada Jakarta terjadi pula di daerah. Disisi lain, ternyata saat semakin tingginya pertarungan ideal politik di ibukota berbanding lurus dengan tingginya angka gesekan sosial berbau sara. Lantas, kita harus lakukan apa?
Tarik menarik antara rasionalitas dan emosi ini sebenarnya dapat dijadikan pijakan awal dalam menetukan berbagai pilihan, termasuk saat memilih hal-hal se-sederhana makanan sekalipun. Saat tiba waktu makan, perut sudah mulai keroncongan-pikiran beri perintah untuk segera memberi asupan energi untuk dapat bertahan hidup. Emosi lahirkan nafsu untuk memilih menu yang diinginkan, hingga lahirkan nafsu makan dan lahirkan energi baru bagi tubuh. Jelas terlihat, fungsi pikiran dan emosi berhasil menciptakan hidup yang lebih berwarna dan tentunya lebih bergairah!
Kebiasaan menggunakan rasio dan emosi ini, pada akhirnya-juga harus digunakan saat kita harus memilih pilihan pemimpin yang menjadi agenda besar Pilkada. Tanpa rasio dan emosi, tentulah Pilkada akan tidak berwarna. Rasio dan emosi lahirkan warna yang indah dan cerah. Wujudkan keinginan kuat untuk terlibat dalam proses pemilihan. Disini, kembali terbukti-keseimbangan lahirkan kedamaian.

 

Lalu, apa yang terjadi jika rasionalitas politik dan emosi politik dihadapkan berlawanan? Jawabannya sangat sederhana, akan terjadi ketidakseimbangan! Kemudian lahirkan kekacauan, pertengkaran, perselisihan, dan permusuhan. Saat rasionalitas diunggulkan, sentimen rasa terlupakan. Kebalikannya, saat emosi diutamakan-essensi terlupakan, hanya sekedar mengutamakan eksistensi. Apa kondisi ini yang kita inginkan?
Tentu kita sepakat untuk menjawab tidak! Bagaimana mungkin kita inginkan kekacauan! Jikapun ada yang inginkan kekacauan, sangat memungkinkan jika kita pertanyakan “rasa kemanusiaannya”. Saat kita masih dapati seorang teman di facebook yang melulu memposting status-status ujaran kebencian, pertajam perselisihan, memancing perdebatan, lahirkan pertengkaran. Dekati dan ajak dia untuk ciptakan ketenangan-kedamaian. Jika tetap ingin munculkan kekacauan, jangan biarkan dia diuntungkan dari kekacauan. Diam bukan pilihan.
Faktanya, kita akan terus dan terus dihadapkan pada konstituen dengan rasionalitas dan emosi politik yang tidak berimbang. Mungkin saja, kita-pun suatu saat akan menjadi salah satunya. Proses untuk terus saling mengingatkan menjadi kunci perubahan bagi makhluk sosial seperti kita. Berhenti mengingatkan berarti berhenti peduli. Berhenti peduli berarti kita sudah memilih untuk tidak menjadi makhluk sosial lagi! Semoga tidak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s