Antara Eksistensi dan Esensi; Make yourself useful!

Beberapa minggu ini, akibat tingginya konstalasi politik di ibukota-beberapa akun sosial media yang aku punya seperti Facebook, Twitter, juga Instagram ramai membincangkan politik. Tentu, setiap pemilik akun menampilkan pikiran-pikiran politis yang dianggapnya benar, dan tidak sedikit juga yang saling serang, meyakinkan pembaca statusnya-bahwa pikirannya yang paling benar. Status musiman seperti ini selalu saja hadir, dan jadi konsumsi harianku-pengguna aktif sosial media.

Tentu, kamu juga-pun merasakan hal yang sama. Akibatnya-5 Februari lalu aku ngepost status “Kita sadar, kita sudah mulai lelah dengan perbincangan politik di sosial media. Juga hampir sepakat, politik itu kotor dan menjijikkan. Namun, jika kita diam~suara kebenaran akan tenggelam dalam teriakan-teriakan mereka. Jadi bersabarlah!”.
Perbincangan berlanjut pada dua kalimat berikutnya, yaitu eksistensi dan essensi. Bagiku pribadi, eksistensi berarti melakukan sesuatu dan berharap pengakuan sedangkan essensi adalah motivasi ideal saat melakukan sesuatu tanpa mesti berharap pengakuan. Mungkin saja, dua hal ini jugalah yang jadi sebab setiap pribadi hingga pada akhirnya lahirkan aksi beragam. Seperti ragam status musiman yang hanya muncul temporer mengikuti populer public activity pada umumnya.
Secara jujur, aku pribadi sering sekali terjebak saat menentukan dua landasan awal setiap aktivitas yang dilakukan. Yang mana yang didahulukan, essensi atau eksistensi? Dari bincang singkat malam kamisan yang kami lakukan di TurunTangan Banten beberapa saat lalu, kita sepakati beberapa hal. Pertama, bahwa harusnya-penekanan pada titik essensi dari setiap aktivitas harus diutamakan, karena itu yang membuat kita menjadi benar-benar memiliki arti sebagai manusia. Kedua, eksistensi sebagai perwujudan dari essensi juga diperlukan, ini akibat mutlak dari manusia sebagai makhluk sosial. Ketiga, tentu yang dibutuhkan kini adalah equality, keseimbangan antara essensi dan eksistensi tanpa harus mengutamakan salah satunya. Keempat, perlu diskusi berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan aktivitas. Dalam hal ini aku jadi teringan Teori Kerusakan yang menerangkan bahwa ingatan akan memudar seiring berjalannya waktu. Semakin lama suatu ingatan disimpan akan semakin tidak bisa diingat dan kekuatannya pun semakin menipis.
Sebagai solusi bagi pribadi sendiri, menanggapi agenda besar Pilkada itu harus. Sebagai rakyat Indonesia dengan sistem demokrasi telah memposisikan kita sebagai penentu kebijakan negara lewat sistem perwakilan di parlemen dan pemerintahan. Tentulah, eksistensi kita dalam agenda politik ini menjadi penting, untuk itu essensi dari keterlibatan ini-pun menjadi penting juga. Aktivitas yang berlebihan akan merusak. Tidak perlu kita memposisikan diri sebagai pendukung buta, dan teriak-teriak di sosial media, seraya membeberkan pembuktian terbalik dari semua fitnah yang dicerca. Juga akan sangat disayangkan jika kita memilih diam dan mendiamkan keadaan. Tidak mau ambil bagian dalam menyelesaikan permasalahan global. Sekali lagi keseimbangan sikap dan posisi yang terpenting.
Semoga, saat semakin sering kita latih diri ini untuk menyeimbangkan essensi dan eksistensi dari setiap pilihan-pilihan hidup-keadaan republik menjadi dapat lebih baik. Karena ketidakseimbangan hanya merusak, dan jangan rusak negeri ini!

2 tanggapan untuk “Antara Eksistensi dan Esensi; Make yourself useful!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s